2 orang ‘sederhana’ hari ini

Seperti kerbau, selalu mataku terbuka siang sekitar jam 1 siang. Padahal hari seharusnya aq memberikan surat undangan pada Bu Ciptati. Takut beliau ga di ruangannya lagi aq langsung siap-siap. Di tengah perjalanan bertemu dengan Kang Edy. Beliau adalah orang yang banyak membantuku dalam melakukan acara bakti sosial di Rumah Belajar KM ITB. Bertempat di Aula Timur, kami pun berbincang-bincang, mulai dari tanggapan warga terhadap acara kemaren sampai pada acara ke depannya. Aq sangat berterimakasih pada beliau bukan hanya karena bantuaannya tapi lebih kepada dukungan semangat yang diberikannya. Sembari berbicara beliau menyodorkan beberapa contact media yang dapat dihubungi untuk mem-publish acara hari Minggu mendatang. Sedikit menjelaskan, bahwa hari Minggu mendatang adalah acara Penutupan dari rangkaian acara Rumah Belajar untuk Masyarakat yang saya gagas bersama kawan-kawan yang lain. Hal yang saya kawatirkan adalah follow-up setelah acara tersebut. Jika hal ini tidak dibahas segera maka akan sangat mungkin membuat RumBel ini surut lagi dan akan membuat antusiasme masyarakat akan hilang. Kurang lebih itulah hal-hal yang kita bicarakan. Tapi sebelum pergi, Kang Edy meminta surat undangan buat donator disana. Wah, tak kusangka orang yang baru kukenal tersebut sangat baik dan suka membantu.
Perjalanan pun kulanjutkan, dengan sebatang rokok kunyalakan menemani perjalananku. Sampainya di LPKM ternyata sudah tutup. Rencananya ingin menitipkan surat undangan tapi tidak jadi karena ibu Nur (ibu yang bertugas disitu) mengatakan”kalau mau anta raja ke ruang Konsultasi (tempat Bu Ciptati)”. Langsung ke tempat bu Cip, ternyata beliau juga tak ada maka kutitip saja pada seorang bapak yang bertugas di sana. Di sana saya, bertemu dengan dua orang sahabat (Arion El’05 dan 1 lagi lupa namanya). Selesai menunaikan tugas, langsung tancap pulang makan.
Di tempat makan berkenalan dengan seorang anak. Cery, begitu dia kusapa. Seorang anak SD kelas 1 yang kutaksir berumur 8 tahun. Dia lagi asik bernyanyi seperti artis yang ditontonnya di TV.  Pintar, cerdas, dan lugu, itulah sepintas penilaianku terhadapmu. “Besar mau jadi apa Dek?”, tanyaku. “Mau jadi dokter, Om”, jawabnya. “Loh kenapa jadi Dokter?”. “Biar bisa membantu orang lain dong, Om”, katanya lagi. Seketika aq tersentak dan mulai berpikir lagi. Ternyata masih ada teman-teman generasi selanjutnya yang berpikir seperti ini. Aq yakin masih ada selain dia di luar sana. Aq harus banyak belajar lagi dari mereka. Dan aq berdoa agar mereka dapat sampai pada cita-citanya.
Selesai makan, seperti biasa, balik ke kosan, bermain internet. Seiring dengan waktu, ada teman-teman yang menyapa. Seperti biasa tak lupa mereka menyepet/mengejek aq perihal cewe. Aq mengecek-ngecek buddy list ternyata ada dia online. Belum pernah sejarahnya aq memulai pembicaraan padanya, tapi kali itu kuberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu. Ternyata dia lagi di kantor sedang kerja. Tak kusangka wanita ini sangat tangguh, sampai malam masih kerja. Aq pun  memberinya semangat, tapi ntah kenapa malah aq yang semakin semangat.
Jam 8 masih punya janji dengan teman-teman untuk keluar jalan-jalan. Maen biliar tentunya. Sekalian ngerayain keberhasilan teman yang diterima kerja di perusahaan-perusahaan bonafit.
:)

sedang membaca

sedang membaca

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s